Ini pengalamanku saat sholat di sebuah mushola di sudut terminal Tidar Magelang. Ada dua wanita yang sedang sholat waktu aku mulai masuk mushola itu.
Di tengah sholatku yang kuusahakan se-khusyuk mungkin, sepertinya kedua wanita tadi sudah selesai sholat karena terdengar keduanya mulai bercakap-cakap. Entah karena musholanya kecil atau karena suara mereka yang cukup keras, nyatanya aku mendengar jelas sekali percakapan mereka meski aku sedang sholat. Mungkin karena gak khusyuk, jadinya makin gak khusyuk karena sepertinya aku mengenal suara salah seorang di antaranya.
Kira-kira begini inti percakapan mereka:
Mbak1: “Dari mana, Mbak?”
Mbak2 : “Dari …….” (aku lupa tepatnya, tetapi pokoknya jauh, sepertinya dari Malang)
Mbak1: “Sendirian aja?”
Mbak2: “Hmm..berdua sama Allah!”
Deg!! Nyaris aku lupa terusan bacaan sholat yang sedang kulafadzkan. Dalam waktu sepersekian detik bermunculan berbagai pikiran di kepalaku, tetapi kutahan dan kuselesaikan dulu sholatku. Masih sempat kudengar komentar dari mbak yang satunya,
Mbak1: “Iya, jadi tenang kalau kita mikirnya gitu”.
Sepertinya setelah itu sunyi tak ada percakapan. Mungkin salah satu di antaranya keluar atau keduanya sama-sama diam, aku tak tahu pasti.
Setelah berdoa untuk orang-orang tercinta, aku melangkah keluar mushola. Sekilas kulihat kedua mbak tadi masih duduk di dalam mushola tetapi sudah melepas mukenanya. Tak satupun di antara keduanya kukenali.
Aku terus keluar dan mengejar bus yang akan segera berangkat menuju Semarang. Di dalam bus masih cukup lapang, banyak tempat duduk yang masih kosong. Seperti biasa, aku memilih tempat duduk yang berjumlah dua yang masih kosong dan aku memilih duduk dekat jendela. Aku mulai meresapi keterkejutanku atas ucapan salah satu mbak di mushola tadi: Berdua sama Allah!
Sekilas, sebagai orang kebanyakan, aku menganggap mbak yang merasa “berdua sama Allah” tadi itu tebal imannya, tinggi ketakwaannya karena merasa “ditemani Allah”. Namun, sebagai pribadi yang selalu mencoba berpikir bebas, sportif, dan hati-hati, aku melihat celah kejanggalan dalam ucapan Mbak tadi. Kalau dia berdua sama Allah, terus orang lain bagaimana? Kalau Allah sedang menemani dia seorang, bukankah berarti umat lain sedang tidak “ditemani” Allah?
Pikiran usilku muncul. Kalau mbak yang satunya pergi dan di mushola kecil itu hanya ada aku dan mbak yang merasa berdua sama Allah tadi, berarti sekurang-kurangnya ada satu pepatah abadi yang terpaksa dibekukan. Pepatah apa itu? Pepatah yang intinya berbunyi:
“Jika manusia lain jenis yang bukan mukhrim berdua-duaan di suatu tempat, maka yang ketiga adalah setan”
Aku dan mbak tadi sama-sama manusia, lain jenis, dan bukan mukhrim, tetapi yang ketiga jelas bukan setan, melainkan Allah yang menemani Si Mbak itu. Yang benar yang mana, yang salah yang mana?
—–
Buat sebagian orang, mungkin istilah: berdua sama Allah merupakan ucapan biasa yang dianggap wajar untuk menunjukkan ketakwaan dan sikap tawakal. Tapi bagiku, istilah itu bukanlah istilah yang pantas diucapkan seorang manusia, sekalipun dia Nabi.
Katastropis! Saya rasa istilah ini lebih mengena daripada istilah fatalisme untuk menggambarkan pemahaman yg bukan saja salah, tetapi juga menyesatkan pikiran.