God must be logic

14 January 2009

Berdua Bersama Allah

Filed under: Hormati Logika — gienswa @ 10:57 am

Ini pengalamanku  saat sholat di sebuah mushola di sudut terminal Tidar Magelang. Ada dua wanita yang sedang sholat waktu aku mulai masuk mushola itu.

Di tengah sholatku yang kuusahakan se-khusyuk mungkin, sepertinya kedua wanita tadi sudah selesai sholat karena terdengar keduanya mulai bercakap-cakap. Entah karena musholanya kecil atau karena suara mereka yang cukup keras, nyatanya aku mendengar jelas sekali percakapan mereka meski aku sedang sholat. Mungkin karena gak khusyuk, jadinya makin gak khusyuk karena sepertinya aku mengenal suara salah seorang di antaranya.

Kira-kira begini inti percakapan mereka:
Mbak1: “Dari mana, Mbak?”
Mbak2 : “Dari …….” (aku lupa tepatnya, tetapi pokoknya jauh, sepertinya dari Malang)
Mbak1: “Sendirian aja?”
Mbak2: “Hmm..berdua sama Allah!”

Deg!! Nyaris aku lupa terusan bacaan sholat yang sedang kulafadzkan. Dalam waktu sepersekian detik bermunculan berbagai pikiran di kepalaku, tetapi kutahan dan kuselesaikan dulu sholatku. Masih sempat kudengar komentar dari mbak yang satunya,
Mbak1: “Iya, jadi tenang kalau kita mikirnya gitu”.

Sepertinya setelah itu sunyi tak ada percakapan. Mungkin salah satu di antaranya keluar atau keduanya sama-sama diam, aku tak tahu pasti.

Setelah berdoa untuk orang-orang tercinta, aku melangkah keluar mushola. Sekilas kulihat kedua mbak tadi masih duduk di dalam mushola tetapi sudah melepas mukenanya. Tak satupun di antara keduanya kukenali.

Aku terus keluar dan mengejar bus yang akan segera berangkat menuju Semarang. Di dalam bus masih cukup lapang, banyak tempat duduk yang masih kosong. Seperti biasa, aku memilih tempat duduk yang berjumlah dua yang masih kosong dan aku memilih duduk dekat jendela. Aku mulai meresapi keterkejutanku atas ucapan salah satu mbak di mushola tadi: Berdua sama Allah!

Sekilas, sebagai orang kebanyakan, aku menganggap mbak yang merasa “berdua sama Allah” tadi itu tebal imannya, tinggi ketakwaannya karena merasa “ditemani Allah”. Namun, sebagai pribadi yang selalu mencoba berpikir bebas, sportif, dan hati-hati, aku melihat celah kejanggalan dalam ucapan Mbak tadi. Kalau dia berdua sama Allah, terus orang lain bagaimana? Kalau Allah sedang menemani dia seorang, bukankah berarti umat lain sedang tidak “ditemani” Allah?

Pikiran usilku muncul. Kalau mbak yang satunya pergi dan di mushola kecil itu hanya ada aku dan mbak yang merasa berdua sama Allah tadi, berarti sekurang-kurangnya ada satu pepatah abadi yang terpaksa dibekukan. Pepatah apa itu? Pepatah yang intinya berbunyi:
“Jika manusia lain jenis yang bukan mukhrim berdua-duaan di suatu tempat, maka yang ketiga adalah setan”

Aku dan mbak tadi sama-sama manusia, lain jenis, dan bukan mukhrim, tetapi yang ketiga jelas bukan setan, melainkan Allah yang menemani Si Mbak itu. Yang benar yang mana, yang salah yang mana?
—–

Buat sebagian orang, mungkin istilah: berdua sama Allah merupakan ucapan biasa yang dianggap wajar untuk menunjukkan ketakwaan dan sikap tawakal. Tapi bagiku, istilah itu bukanlah istilah yang pantas diucapkan seorang manusia, sekalipun dia Nabi.

Katastropis! Saya rasa istilah ini lebih mengena daripada istilah fatalisme untuk menggambarkan pemahaman yg bukan saja salah, tetapi juga menyesatkan pikiran.

Nama Islami tak Harus Berbahasa Arab

Filed under: Hormati Logika — gienswa @ 10:52 am

Sebagai muslim, saya seringkali mendengar istilah “nama Islami”. Seorang anak yang lahir dari pasangan muslim-muslimat yang “taat” biasanya diberi nama yang Islami. Saya juga pernah mendengar atau mungkin membaca anjuran agar memberi nama anak dengan nama Islami. Apa sih (sebenarnya) nama Islami itu? Saya sendiri juga agak bingung.

Semula saya pikir nama Islami itu nama atau kata-kata yang ada di Alquran, apapun itu. Namun, ternyata tidak semua kata-kata yang ada di Alquran itu baik dijadikan nama. Ada kata-kata yang berarti “Jahanam” , “Neraka”, “Durhaka”, “Kafir”, “Zalim”, “laknat”, dan sebagainya yang jelas-jelas tidak bagus dijadikan nama seseorang. Pemahaman bahwa “nama Islami” adalah nama yang ada di AlQuran pun akhirnya saya tinggalkan.

Saya yakin, istilah “nama Islami” memiliki konotasi yang baik. Dan, arti yang baik itu menurut saya pasti mengandung unsur universal. Arti yang tidak terikat pada satu bahasa manusia saja. Nama Islami tidak harus nama yang ada di AlQuran, atau lebih tepatnya lagi, tidak harus berbahasa Arab.

Menurut saya, nama Islami adalah nama yang indah serta baik artinya. Nama seorang anak berisi doa orangtua yang memberinya nama. Seseorang tentu berdoa dengan bahasa yang dimengertinya. Jadi, menurut saya, nama Islami bisa saja nama dalam bahasa Jawa, Sunda, Thailand, Cina, Kamboja, Rusia, Inggris, India, bahkan bahasa Ibrani. Pemahaman nama Islami sebagai nama yang ada di AlQuran sama saja dengan mempersempit fungsi agama Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. AlQuran menggunakan bahasa Arab, otomatis semua kata-kata dalam AlQuran adalah kata-kata dalam bahasa Arab.

Mungkin ada di antara Anda yang ingin menyangkal, dan menegaskan bahwa nama Islami harus berbahasa Arab. Atau mungkin lebih halus hanya menyarankan bahwa nama Islami itu sebaiknya berbahasa Islami (maksudnya : bahasa Arab). Apa sih beda antara bahasa AlQuran dan bahasa Arab? Mari kita tengok.

Bahasa Arab jelas sudah ada sebelum AlQuran diturunkan, sudah ada jauh sebelum Nabi Muhammad dilahirkan. Apa artinya? Artinya: nama “Muhammad” yang oleh sebagian kelompok tanpa sadar telah ditasbihkan sebagai nama paling Islami itu sebenarnya hanyalah salah satu dari sekian nama-nama bagus dalam bahasa Arab biasa.
Nama “muhammad” itu sudah ada sebelum Islam/AlQuran diturunkan. Bahkan sebutan “Allah” untuk Sang Maha Pencipta pun sudah ada sebelum Islam diturunkan. Tengok nama ayahanda Nabi Muhammad, yaitu : Abdullah bin Abdul Muthalib. Abdullah berarti hamba Allah, kan? Dan itu adalah kata dalam bahasa Arab sebelum Islam lahir. {Kok jadi, gitu ya?, ada yang baru nyadar bahwa istilah Allah sudah ada sebelum AlQuran turun?}

Mohon maaf jika ada yang kurang setuju. Ini sekedar opini saya saja. Saya cuma berpesan bagi yang ingin memberi nama anak dengan nama Islami, silakan mencari nama dengan bahasa yang Anda mengerti benar. Maksud saya, jangan beranggapan bahwa nama Islami itu harus bahasa Arab sehingga minta dicarikan nama ke para ustad. Kasihan para ustad jadi pusing memikirkan nama yang cocok yang di-request-kan. Tapi ada benarnya juga bertanya ke ustad, karena kalau mau memberi nama berbahasa Arab tanpa konsultasi ke ahlinya, bisa-bisa malah keliru ngasih nama kafir-kafir Quraisy alias peran antagonis dalam sejarah Islam, he..he. Sapa yang mau ngasih nama “Abu Jahal”, “Abu Lahab”?
By the way, nama-nama antagonis tadi mungkin di Arabnya sana bisa jadi malah masih banyak digunakan. Analogi dengan nama (Letkol) “Untung” yang pernah tercatat sebagai “penjahat” di Indonesia era 65-an yang sampai sekarang ternyata masih banyak juga yang memakai nama itu.

Ada benang merah yang bisa ditarik dari uraian di atas, yaitu: Kehadiran Islam bukan untuk mengganti seluruh budaya lokal dengan budaya Arab. Kesimpulan ini merupakan salah satu syarat agar anggapan bahwa Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam benar secara logika. Wassalam.

13 November 2008

Benarkah Syetan Musuh Allah?

Filed under: Hormati Logika — gienswa @ 1:42 pm

Assalamualaikum wr. wb.

 Saya mempunya cerita nyata untuk direnungi. Suatu saat dalam sebuah khotbah Jumat di sebuah masjid di Yogya, khatib membahas tentang partai. Beliau mengatakan bahwa kalau di dunia ini bisa ada banyak partai, di akhirat nanti cuma ada 2 partai, yaitu Partai Allah (hizbullah) dan Partainya Syetan (hisbusyaiton). Astaghfirullah,  saya kaget mendengarnya.

Setahu saya, syetan itu ciptaan Allah, bagaimana mungkin bisa membuat partai menyaingi Allah? Rebutan pengikut dengan Allah? Dalam hal ini, kesannya syetan ditempatkan sejajar dengan  Allah, jadi musuh Allah.
Memang, syetan dinobatkan (oleh manusia) sebagai biang keladi atas segala kejahatan yang dilakukan manusia. Namun, tetap saja syetan tidak bisa disebut musuh Allah. Bukan kelasnya! atau bahasa gaulnya: enggak level

Dalam pembicaraan, mungkin mudah seseorang mengatakan bahwa syetan itu musuh Allah tanpa berpikir bahwa pernyataan itu “berbahaya”. Dia sama saja mengangkat derajat syetan menjadi setara dengan Allah. Pernahkah terpikirkan bahwa konsep yang menyatakan bahwa Allah adalah musuh syetan seperti itu adalah konsep peninggalan zaman kuno di mana ada dewa kejahatan dan ada dewa kebaikan yang sama-sama sakti?

Mari relakan sejenak waktu kita untuk berpikir lebih dalam dan jernih .. tentang tuhan dan tentang anggapan kita yang (mungkin) keliru mengenai-Nya..

Blog at WordPress.com.